Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Tuan

Tuan, mencintaimu lebih sakit dari hempas ombak Lebih lebam dari hantaman karang Sementara aku berdayung menuju labuhmu, Hati habis dicakar angin, dikoyak waktu Tuan, aku selamat dengan hati bersisa Lalu potong-potongannya kau tumbuhkan Lalu tubuhku mulai kau agungkan Kala ragaku habis oleh sanjungmu, tuan, Hati yang baru setengah sembuh itu Kau umpankan pada hiu-hiu yang menganga Kau mendorongku untuk mengejar hatiku, tuan Tapi aku tenggelam dan kehilangan Saat aku bangun dan terapung Aku tak tahu harus apa selain memotong karang dan menyumpalnya di dadaku yang berlubang Lalu menyusuri Pasang surut yang menyanyikan kisahmu, tuan Dengan hati berganti batu

Aku, Rahwana-mu

Tuan, kau bagai Sita dan aku bertopeng Rahwana Tuan, kau memujanya bagaikan ia takdirmu Bagaikan ia yang senantiasa memelukmu Bagaikan dia Rama yang hanya untukmu Aku, Tuan. Yang menggamitmu dalam gelap Yang kau sanding dalam gaun hitam Yang merasamu dalam diam, dalam dalam Kau, Tuan! Kau yang menarikku dari wajar dan waras Kau juga yang memelukku sebab sepi Dan masih kau yang melumuriku Dengan jilat madu yang liat Tuan, tubuhku yang kau dirikan saat para Hanoman datang Wajahku yang kau hadapkan saat busur Rama membentang Namaku yang kau teriakkan saat dunia menuding, Tuan! Tuan! Kenapa jari-jarimu lolos kala tanganku terpiting, Tuan? Mengapa suaramu reda saat teriakku didera? Bagaimana bisa kau berpeluk dalam rengkuh Rama, Saat aku ditekuk dalam kungkung Hanoman, Tuan? Tuan, habis sudah jejakmu Kecuali terbasuh air mataku Habis sudah senyummu Kecuali hanyut dalam darahku, Tuan Tidak ada, Tuan, bibir yang menyebutmu Sita, ...

Bukit Bintang

Jika kita akhirnya bertatap, akan kuajak kau ke Bukit Bintang. Jika akhirnya kita sampai dan menatap, akan kuajukan kau satu tanya, "Bukit ini dinamakan Bukit Bintang karena apa?" Menurutku, kau akan menjawab, "Karena bintang di atas kepala bebas bertabur tanpa ada yang menghalang pandang." Jika begitu, aku akan menunjuk langit yang termangu mendung. "Tapi tidak terlihat sebutir pun di sana, bagaimana?" Menurutku, kau akan tertegun sebelum menunjuk temaram kota yang menjalar di kaki Bukit Bintang. "Lampu-lampu terlihat seperti bintang dari sini. Seperti galaksi malahan." Aku akan sangat senang kalau persis begitu jawabmu. Aku lalu akan tersenyum dengan luka dikulum. "Masa kemarin adalah bukit bintang untukku: aku menganggapmu bintang yang menerawangku dari jauh, tanpa sadar kalau langit sedang mendung. Saat aku akhirnya sadar, baru aku pahami kalau kau adalah lampu yang menerangi rumah seorang lain, dan aku menyaksikan dari jauh....

Kembang Api

Sepotong Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari29 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Apa yang menarik dari kembang api?" Aku menatapnya sipit-sipit, mengawasi gerakannya yang memantikkan api lalu mendekatkan lidah merah yang menjilat-jilat itu pada sumbu kembang apinya. "Memang enak dipandang, tapi hanya satu kedip, lebih cepat dari sekejap." Dia tidak menjawab, lalu mengulurkan sebatang yang sudah memercikkan bunga api padaku. Aku menerimanya, memperhatikan bagaimana batang kembang api itu menggugurkan percik api sepanjang sumbunya. Sumbunya habis terbakar saat satu ledakan besar dari kembang api tetangga kami menghujani langit mendung malam itu dengan hamburan cahaya, persis saat ia menjawabku lembut. "Memangnya di dunia ini ada yang abadi?"

Pertemuan Singkat dengan Fantasi

Sepotong cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari28 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Hari ini aku bertemu fantasiku, atau setidaknya ia mengaku begitu. Wajahnya datar, polos, tidak menampakkan apapun. Katanya, "bukan salahku, kau yang minim fantasi." "Bukan salahku juga." Aku membela diri. "Aku tidak punya waktu untuk fantasi." Dia, dengan masih tanpa ekspresi, lalu menatapku. "Menyebalkan sekali tapi kalau suatu saat kau butuh pelarian dari dunia nyata, aku ada untukmu." "Aku tidak suka melarikan diri." Balasku. "hadapi saja dan akan terselesaikan." "Ya setidaknya hadapi aku juga." Lanjutnya sambil berlalu. "Aku juga ingin selesai."

Kau

Sekilas Konversasi Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari27 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 03.45 "Ceritakan padaku tentang fantasimu." "Apa?" "Ayolah, pasti ada sesuatu yang sedang kau pikirkan sekarang." "Mmm, aku membayangkan sedang makan sahur di ruang makan di rumahku, dengan ibuku menghidangkan dan ayahku mengomeli kuapanku." "Ahahaha, kau punya kenangan yang unik." "Lupakan. Bagaimana denganmu?" 08.00 "Kau tahu keluargaku tidak semenyenangkan milikmu." 10.15 "Maaf, aku tidak bermaksud." "Tidak apa-apa, santai saja." "Bagaimana denganmu?" "Apa?" "Fantasimu, ayolah, kau memaksaku tadi." 13.50 "Kapan? Tadi pagi atau sekarang?" 17.25 "Dua-duanya?" 18.55 "Satu saja." 19.05 "Baiklah, terserah padamu." "Oke, dua-duanya." "Ahaha, jadi?" 22.05 "Yang mana dulua...

Kau Masih Menari

Sekilas Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari26 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Aku melihatnya menangis, keras sekali. Beberapa kali kutepuk pundaknya, ia tak bergeming. Sekian kali terguncang tubuhnya oleh tanganku barulah ia menarik napas. "Aku tak bisa menari lagi." Aku duduk di sebelahnya, merangkulnya. "Tapi kau masih bisa tersenyum, tidak apa-apa." Dia ternyata menangis lebih keras, mulai meraung-raung. Aku pun gelagapan saat ia berdiri lalu ambruk setelah kakinya bergetar hebat dan tertekuk roboh. "Kau masih bisa menari," aku cepat-cepat menggenggam tangannya. "Di dalam anganku, setidaknya." Dia menatapku, air mata meleleh dari sudut matanya. "Tapi nyatanya tidak." Aku kehabisan kata-kata saat ia kembali terisak. Bisu lidahku saat seseorang tiba-tiba menghampirinya, lalu menghentikan tangisnya hanya dengan kehadiran. "Siapa peduli?" Aku menjawabnya melalui angin yang lalu ketika ia yang telah dik...

Tutup Mata

Sekilas Puisi Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari25 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Tutup mata Bayangkan kuda terbang, bertanduk, meringkik merdu Bayangkan peri bersayap, ramah, tawanya lantang melintang Bayangkan penyihir renta, bongkok, hidung membengkok Bayangkan putri kesepian, menangis, meratap Lalu kau Buka mata Mereka lenyap Kau juga Tutup mata Kuda terbang melayang Peri bersayap melesat Penyihir tertawa ringkih Putri kesepian semakin sunyi Tapi kau tak muncul kembali

Dulunya, Sekarang Tidak

Secarik Kisah Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari24 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Aku dulu punya sayap!" Ia berteriak-teriak di sepanjang jalan. "Warnanya biru, seperti langit dan laut." "Tapi warna birunya langit dan laut berbeda." Seorang anak kecil menatap heran. "Biru yang mana yang kau maksud?" "Kedua-duanya." Ia berjongkok dan menyejajarkan tatapan matanya dan anak itu. "Tidak tahukah kau kalau laut berwarna biru karena memantulkan warna langit, dan sebaliknya?" Anak itu terdiam, berpikir. "Tapi darimana warna birunya berasal?" "Maksudmu?" "Bukankah maksudnya itu seperti aku berdiri di antara dua cermin yang saling berhadapan," anak itu diam sebentar untuk berpikir. "Lalu aku menyorotkan senter ke salah satunya, sinarnya akan terpantul ke cermin satunya, lalu memantulkannya kembali ke cermin satunya, dan begitu seterusnya?" Orang yang mengaku bersayap tadi ikut diam...

Pangeran Kuda

Sekilas Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari23 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Mau jadi apa kalau besar nanti?" "Heh?" "Iya," Aku menarik tubuh mendekatinya. "Pilot? Dokter? Tentara?" "Kenapa memangnya?" Dia menengadah, memperhatikan pesawat mainannya mendarat di bawah kaki. "Aku belum memikirkan hal seperti itu." Aku merampas remot pesawatnya lalu menggantinya dengan sebuah majalah kartun bergambar seorang putri dan seorang pangeran di atas kuda putih. "Kau tahu, aku sangat ingin menjadi putri seperti di sini." Aku menunjuk gambar itu. "Ya terserah kau saja." Dia mengambil pesawat mainannya lalu merapikan benda itu. "Lagipula kau tidak terlihat seperti putri itu sama sekali." "Aku bisa mengusahakan penampilan." Aku mengikuti langkahnya sambil mengibaskan majalah tadi. "Tapi aku butuh bantuanmu." Kami berhenti di musholla, dia berlari kecil ke arah keran ...

Sayap Patah

Seiris Kisah Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari22 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Peri-peri tinggal di balik bunga," begitu celotehnya setiap sore kalau kami sempat berjalan-jalan. "Dan para kurcaci duduk di bawah sana, menjaga agar tangkainya tidak roboh." Aku mengangguk--itu hal terbaik yang bisa kulakukan. "Lalu?" "Lalu," ia berpikir-pikir, sepertinya sadar kalau ia sudah mengulangi cerita serupa berkali-kali. "Lalu suatu hari ada peri yang jatuh ke bawah saat seorang kurcaci jahil memanjat ke atas." Aku terdiam, seperti menunggu walaupun aku sudah tahu penghabisan kisah itu. "Ya..." "Ah, sudahlah!" Ia memalingkan wajah sambil memberengut. Aku keheranan, tapi memaksa senyum dan memberi tatapan penuh tanda tanya padanya. "Aku sudah menceritakan ini padamu berkali-kali, kenapa tidak bilang saja kalau bosan?" Aku termangu, untuk pertama kalinya benar-benar membayangkan keberadaan peri-peri dan...

Petrichor

Sepotong Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_hari21 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 “Hidup tidak selunak bubur bayi.” “Depresi tidak sebercanda itu.” “Baiklah.” Sekilas penyesalan terlukis di sorot matanya yang sarat kekesalan. “Hanya, why so easily give up? Kenapa menyerah begitu mudah? Aku pernah mengalami hal yang sama, berkali-kali malah. Tapi kau bisa lihat aku masih menjejakkan napas di sini.” “Tiap orang itu beda-beda.” Aku menerawang mendung yang menggantung. “Mungkin, karena dia tidak punya back up .” “Dia anak yang cerdas, aku yakin dia bisa mencari back up plan yang lebih, yah, kau tahulah.” “Maksudku bukan back up plan.” Aku mendesahkan napas sambil meraba gumpalan gelap di atas sana dengan tatapan kosong. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku beranjak meninggalkannya yang masih terus menerus mendecakkan lidah. Aku masuk ke kamar rawat. Adik kami yang paling kecil telentang di ranjang, mata menatap langit-langit putih. Ibu ada di sebelahnya, mencoba m...

Karena Aku?

Sekilas Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari20 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Kau bisa melihat hantu?" Laki-laki itu menatapku dengan mata terbelalak. Aku tidak menjawab kecuali dengan anggukan kecil, setelah berpikir dan meragu. Laki-laki itu lalu menatapku penuh selidik selama 5 menit lalu tersenyum lebar. "Keren." Pipiku bersemu merah, membalas dengan senyum tipis. "Aku tidak terlalu merasa begitu." "Masa sih?" Lalu kami tertawa. Hari-hari berikutnya kami lalui bersama. Dia menyapaku sebelum masuk kelas,  duduk di sebelahku sepanjang hari, dan mengantarku setidaknya sampai gerbang sekolah setelah jam pulang. "Sayang sekali rumah kita tidak searah." Dia berkali-kali mengatakan itu dengan senyum memohon maaf. Aku mengangguk sambil tersenyum juga. "Tidak apa-apa. Aku bisa bosan kalau harus terus bersamamu bahkan sebelum dan sesudah jam sekolah." Ia merengut, aku tertawa. Tidak peduli pada orang-orang y...

Dalam Bis di Tengah Malam

Secuil Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari19 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Dunia tak lagi tidur sejak terjamah modernisasi. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu, dan seterusnya, dan seterusnya. Malam dibanding siang tak lagi lebih gelap, tak lagi lebih senyap, tak lagi merayap-rayap. Dan demikian pula aku. Sejak mendapat penempatan baru, terang malam adalah siang baruku. Sudah dua minggu sejak terakhir kali pulangku bersama dengus lelah matahari. Kini aku selalu menuju rumah dihantarkan cekikikan bintang-bintang dan rayuan genit bulan. Ah, tidak lupa dengan bis kota yang dengan bangganya memamerkan betapa metropolitan-nya pekerjaannya, masih memutar roda dan kemudinya hingga lewat tengah malam. Butuh waktu tiga perempat jam dari halte seberang kantor hingga halte sebelah gang rumahku. Kursi-kursi jarang penuh terisi, paling empat-lima orang yang berpelukan dengan kantuk. Aku biasanya juga ikut dipeluk kantuk, tapi belakangan lebih suka memperhatikan kondektur...

Jerit Malam

Sepotong Puisi Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari18 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Apa cuma aku Yang tak sedikit pun menjerit di agenda jerit malam? Hanya diam tanpa komentar Hanya berjalan tanpa rehat Semakin cepat kaki, semakin cepat waktu Kanan-kiri, depan-belakang, memekik-menjerit Sosok melompat dari punggung pohon, memantul dari balik semak Bulan bekerja sama menyoroti Mungkin memang hantu sungguhan Mungkin bukan rekayasa panitia Tapi pohon dan hutan tak akan menyakiti jika tak disakiti Begitu pun roh di dalamnya Kadang menelengkan kepala Menarik senyum dan alis Apa cuma aku Yang mengangguk dan bersalam? Kembali diam tak berucap Lanjut berjalan tanpa stop Semakin lebar langkah, semakin lekas beranjak Tengkuk, lengan, tungkai, bulu roma biar menegak Biar ada yang menyeringai dari pucuk pohon Masih samar dan terus berbayang Biar bulan tak redup sedikit pun Mataku menunduk rendah Matanya berkilat merah

Melahap Ngeri

Sekisah Puisi Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari17 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Kawanku pernah bertanya, Apa yang akan terjadi pada sebentuk bola mata Jika ia dilindas alat berat Benakku digelitik tertarik Apakah ia akan pecah laiknya kaca, Atau kempes seperti bola? Lalu kami tertawa Itu pertanyaan unik Padahal sedikit ngeri Mengapa juga sebutir bola mata bergulir ke kolong alat berat Mengapa juga nasib menempatkannya bebas dari rongga tengkorak Tidak ada untung-untungnya Padahal sedikit ngeri Kawanku yang lain menimpali Katanya pernah menyantap batok ikan Katanya pernah mengorek rongga matanya Katanya biji mata ikan digiling gerahamnya Kawanku yang pertama menatap, dengan bola mata bersinar yang masih menempel di tempatnya, syukurlah Lucu jika aku berpikir bulatan itu mengalir jatuh Padahal sedikit ngeri Tak pecah, tak kempes Hanya lepes bagai dipenyet Isinya kenyal lagi keras Dapat dikunyah namun alot Kawanku yang pertama mengangguk Lalu mengaj...

Bukan Tulen Horor

Seonggok Puisi Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari16 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Tuliskan sesuatu tentang horor Tentang kengerian, ketakutan, cekaman dingin di ubun-ubun Walau tak menggauli dunia astral Walau tak ragu tanpa pelita Walau sunyi adalah akrabmu Ceritakan sesuatu tentang horor Tentang keraguan, kecemasan, peluh hangat di pelipis Walau tentang dunia nyata Walau bermandikan cahaya lampu Walau ramai menjadi sahabatmu Sampaikan, walaupun bukan tulen horor Tentang gemetar sekilas menantang takdir Tentang takut menjalar diancam maut Tentang ragu akan cerita masa depan Tentang perasaan yang tertekan dan ditekan Tentang duka yang tertelan bulat-bulat Tak luput tentang senyum terlukis menangkis rasa

Kepalaku?

Seonggok Puisi Pendek Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari15 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Ruangan ini sepi, tak berbunyi Rumah ini senyap, tak berderap Tapi aku terjebak dalam riuh, berbanjir peluh Suara-suara yang mendesak Mengisi kepala hingga bengkak Aku mengeluh pening Kata suara itu, Potong saja agar tak sering Aku bertanya tanpa ucap, Apanya? Kepalaku? Tanganku mulai menggores Kata suara itu, Gantung saja dengan tambang Aku tertegun kebingungan, Setelah dipotong? Sebelum dipotong, Suara itu menjawab sambil terkikik Agar kau tahu Kematian pun mustahil tanpa usaha Lalu semua merah Disusun perih  Lalu hitam tak berselang 

Putri Tidur

Cerita Bersambung Bagian 7 dari 7 Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari14 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 “Saat aku bertemu denganmu lagi, kamu tidak tahu betapa aku sangat bahagia. Apa yang ada di kepalaku adalah kita dianggap sudah mati lalu kita bisa memulai semuanya dari awal. Kau tahu, naif sekali ya? “Tapi di malam itu, tahukah kamu kalau pasukan republik mendatangi kita? Mereka mengobati kita, seperlunya memang, tapi itu membuat kita bertahan hidup. Kamu mungkin tidak sadar, tapi aku cuma pura-pura tidur, seperti putri tidur di dongeng, tapi dengan wajah yang menggambarkan kekerasan, bukan kedamaian. Walaupun aku tidak tahu kenapa mereka tidak membawa kita, daripada membiarkan kita berkeliaran.” Aku menelan potongan roti bagianku saat ia sudah menghabiskan seperempat rotinya. Rasanya jelas berbeda dengan roti sempurnanya dulu—hebat, aku masih ingat rasanya—tapi aku merasakan hal yang sama dengan dulu saat memakannya. Seperti kami akan berpisah lagi. Di luar, serang...

Putri Tidur: Bisakah Kamu Menutup Pintu?

Cerita Bersambung Bagian 6 dari 7 Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari13 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Dia besar di tengah-tengah keluarga dengan latar belakang militer yang kental, maka aku tidak pernah sekalipun mendapatinya berbohong. Termasuk kali ini, ketika ia dapat dengan mudah menemukan cara untuk masuk ke dalam benteng utama, dan tersenyum bangga kepadaku seolah berkata, “Aku benar-benar mata-mata kerajaan.” Mau tidak mau, aku harus mengakui kalau aku gemas melihatnya. Ingin sekali aku berjalan sombong daripada menunduk-nunduk ketika kami melewati barisan pasukan republik dan berkata padanya, “Kau aman karenaku, ketahuilah dan berbahagialah.” Kami dihentikan beberapa prajurit di dalam benteng, namun ia dengan cepat mengatasinya. Kami dipisahkan setelah itu, dan aku tidak berkata apa-apa saat dia sejenak berbalik dan melempar senyum padaku sebelum mengikuti beberapa prajurit lain ke suatu lorong yang luas. Sementara aku dikawal seorang prajurit yang tiba-tiba mend...

Putri Tidur: Bisakah Kau Memanggang Roti?

Cerita Bersambung Bagian 5 dari 7 Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari12 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 Bukan sembarang orang yang bisa tinggal di wilayah sipil barat. Padatnya kegiatan militer di sana membuat kehidupan masyarakat mau tak mau harus lekat dengan kemiliteran walaupun tidak terlibat langsung dengan kegiatan militer. Apalagi sejak wilayah barat ditetapkan sebagai pusat militer kerajaan, banyak anggota militer yang memindahkan keluarga mereka ke wilayah sipil barat. Sehingga mau tak mau, baik wilayah sipil pun merasakan pengaruh militer yang keras di dalam masyarakatnya. Dan itulah yang aku dan perempuan ini alami sejak kecil. Aku mengenalnya sebagai putri kolonel, satu-satunya anak perempuan di keluarga. Kami berada di sekolah yang sama dan ia seringkali dikirim ke rumahku untuk belajar membuat roti dari ayahku. “Apa kamu ingat? Dulu kita sering bilang, setelah menikah kita akan membuka toko roti kita sendiri dan tidak akan membiarkan satu pun generasi keluar...

Putri Tidur: Bisakah Kau Membunuhnya?

Cerita Bersambung Bagian 4 dari 7 Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari11 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 “!” Punggungku tegak mendadak, mataku awas bergulir. Tubuhku rebah di ranjang kayu, sendiri di tengah sebuah ruang temaram. Di mana dia? Ah. Di mana aku? “Kau harus punya penjelasan yang masuk akal.” Seseorang tiba-tiba mendekatiku. Aku memperbaiki posisiku sesegera mungkin saat menatap wajahnya. “Apakah keyakinanku bahwa kau memahami sepenuhnya perintah terakhir itu keliru?” “Aku tidak bisa hanya melihat orang sekarat di depanku.” Orang itu tegap tepat di pinggir ranjangku. “Apa yang kau rencanakan?” Aku meremas jari-jariku kuat. “Di mana dia sekarang?” “Tergantung jawabanmu.” Aku menghela napasku yang sedari tadi tertahan. Mataku lalu beralih serius, menatap mata tajam pria yang sedari tadi sepertinya mengamati kondisiku. “Aku bisa menahan diri untuk tidak mencegah kematian mengunjungi ibuku.” Aku memejamkan mata sambil menahan buncah emosi dar...