Langsung ke konten utama

Bukan Tulen Horor


Seonggok Puisi
Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari16
Komunitas Sahabat Pena UGM
2018

Tuliskan sesuatu tentang horor
Tentang kengerian, ketakutan, cekaman dingin di ubun-ubun

Walau tak menggauli dunia astral
Walau tak ragu tanpa pelita
Walau sunyi adalah akrabmu

Ceritakan sesuatu tentang horor
Tentang keraguan, kecemasan, peluh hangat di pelipis

Walau tentang dunia nyata
Walau bermandikan cahaya lampu
Walau ramai menjadi sahabatmu

Sampaikan, walaupun bukan tulen horor

Tentang gemetar sekilas menantang takdir
Tentang takut menjalar diancam maut
Tentang ragu akan cerita masa depan
Tentang perasaan yang tertekan dan ditekan
Tentang duka yang tertelan bulat-bulat

Tak luput tentang senyum terlukis menangkis rasa



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pidato Anti-Mainstream

 Pidato termasuk salah satu tugas di mata pelajaran Bahasa Indonesia. Di sekolah, umumnya guru-guru menentukan tema pidato yang berkaitan dengan pendidikan, lingkungan, atau IPTEK. Tentu untuk tugas sekolah, kita lebih condong memilih tema Pendidikan. Tapi, pidato yang dibawakan hanya tentang itu-itu saja,alias mainstream , sekedar mengulas perkembangan pendidikan di Indonesia. Hm, bagaimana kalau kita mencoba membuat pidato yang anti-mainstream ??  Berburu Bocoran Soal Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatu Pertama-tama marilah kita mengucapkan syukur kepada Allah SWT. karena atas izin-Nya kita dapat berkumpul kembali di kelas kita ini. Pada kesempatan ini, saya ingin membahas trending topic di kalangan para siswa tingkat akhir di setiap jenjang pendidikan. Yaitu, Ujian Nasional. Tetapi, saya bukannya ingin membahas tentang berbagai persiapan dalam menghadapi Ujian Nasional, melainkan tentang fenomena pemburuan bocoran-bocoran soal Ujian Nasional. ...

Kembang Api

Sepotong Cerita Untuk #Challenge30HariSAPE_Hari29 Komunitas Sahabat Pena UGM 2018 "Apa yang menarik dari kembang api?" Aku menatapnya sipit-sipit, mengawasi gerakannya yang memantikkan api lalu mendekatkan lidah merah yang menjilat-jilat itu pada sumbu kembang apinya. "Memang enak dipandang, tapi hanya satu kedip, lebih cepat dari sekejap." Dia tidak menjawab, lalu mengulurkan sebatang yang sudah memercikkan bunga api padaku. Aku menerimanya, memperhatikan bagaimana batang kembang api itu menggugurkan percik api sepanjang sumbunya. Sumbunya habis terbakar saat satu ledakan besar dari kembang api tetangga kami menghujani langit mendung malam itu dengan hamburan cahaya, persis saat ia menjawabku lembut. "Memangnya di dunia ini ada yang abadi?"

Tuan

Tuan, mencintaimu lebih sakit dari hempas ombak Lebih lebam dari hantaman karang Sementara aku berdayung menuju labuhmu, Hati habis dicakar angin, dikoyak waktu Tuan, aku selamat dengan hati bersisa Lalu potong-potongannya kau tumbuhkan Lalu tubuhku mulai kau agungkan Kala ragaku habis oleh sanjungmu, tuan, Hati yang baru setengah sembuh itu Kau umpankan pada hiu-hiu yang menganga Kau mendorongku untuk mengejar hatiku, tuan Tapi aku tenggelam dan kehilangan Saat aku bangun dan terapung Aku tak tahu harus apa selain memotong karang dan menyumpalnya di dadaku yang berlubang Lalu menyusuri Pasang surut yang menyanyikan kisahmu, tuan Dengan hati berganti batu